PERAN PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembentukan kepribadian seorang anak tak dapat lepas dari pengaruh ibu dan ayahnya. Peran keluarga sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian seorang anak, karena anak lahir dan dibesarkan oleh kedua orangtuanya, mulai dai kecil anak tersebut diasuh dengan pola asuh yang mengikut kepribadian orangtuanya.
Apabila ibu adalah seorang yang kurang baik maka ibu itu juga akan mendidik anaknya sesuai dengan kepribadiannya. Padahal peran ibu dalam mendidik kepribadian anak adalah yang nomor satu.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran pendidikan keluarga terhadap pembentukan kepribadian anak?

2.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimana pendidikan keluarga dalam membentuk kepribadian anak





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendidikan Keluarga Sebagai Peletak Dasar Pembentukan Kepribadian Anak
Dalam kehidupan keluarga yang normal atau sebagaimana yang terjadi pada umumnya sejak baru dilahirkan didunia, anak hidup dalam lingkungan keluarga dan mendapatkan asuhan dari kedua orangtuanya. Hal yang pertama mengisi kepribadian anak tidak lain dan tidak bukan adalah semua yang ada dalam keluarga dimana sianak diasuh dan dibesarkan.
Secara sadar atau tidak sadar, orangtua telah menanamkan kebiasaan-kebiasaan kepada anaknya, baik itu kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk. Anak dengan senang hati menerima dan meniru apa yang dilihatnya dari orangtuanya, bahkan anak tersebut tidak memahami maksud dan tujuan yang dilakukan orangtuanya.
Pendidikan keluarga diterima oleh anak sejak dini, dan dampaknya akan melekat kuat serta akan dibawa oleh anak tersebut sampai ia dewasa. Hal itu seperti yang dikatakan bangsa inggris dengan sebuah ungkapan yang berbunyi “You can take the boy out of the country, but you can’t take the country out of the boy (Anak dapat meninggalkan tanah kelahirannya, tapi tanah kelahirannya itu tidak akan dapat lepas dari si anak)”. Ungkapan lain dari orang jawa, mengatakan “Kacang, mangsa ninggala lanjaran” yang maknanya tidak mungkin seorang anak tidak melakukan apa yang sejak kecil dicontohkan oleh orangtuanya.
Pada kenyataanya, dalam kehidupan sehari-hari banyak yang sesuai benar dengan kedua ungkapan tersebut. Anak akan membawa pengaruh atau ajaran yang telah diberikan oleh orangtua yang diterimanya ketika kecil, kemanapun perginya. Bahkan terbukti bahwa pengaruh ajaran yang disampaikan atau ditanamkan oleh orangtuanya begitu besar pengaruhnya pada anak. Meskipun ia telah mendapat pengaruh-pengaruh lain yang sangat  beragam.
Bukti-bukti pada anak tersebut memperkuat pendapat para ahli yang mengatakan bahwa kepribadian anak atau individu sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan asal tempat anak tumbuh dan berkembang. Kekhususan yang dmiliki oleh seseorang tetap menjadi perhitungan dan pertimbangan oleh orang-orang disekitar tempat tinggalnya saat ini.
Dalam pendidikan keluarga hal yang penting atau yang menentukan pembentukan kepribadian adalah ayah dan ibu. Mereka yang paling bertanggungjawab terhadap pembentukan kepribadian anak-anaknya. Hitam putih sifat kepribadian anak adalah sepenuhnya tanggung jawab ayah dan ibu, bukan orang lain, seperti guru atau pendidik.
Dalam sebuah keluarga orangtua yang paling banyak berperan dalam pembentukan kepribadian seorang anak adalah ibu, karena ibu yang lebih banyak waktunya bersama dengan anak, apapun yang dilakukan, yang dikatakan ibu akan sangat mudah diserah oleh seorang anak. Perlunya ibu untuk selalu menjadi panutan yang baik bagi anaknya dengan menunjukkan sikap contoh yang baik terhadap anaknya.
B.     Pendidikan Islam untuk Membentuk Insan Berkepribadian Mulia
Islam memandang pendidikan keluarga menentukan kepribadian anak dalam keluarga yang dibangunnya. Islam memiliki pandangan dan cara-cara tersendiri dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Yaitu kepribadian anak yang islami. Berikut cara-cara membentuk kepribadian anak islami:
1.      Anak Sebagai Amanah Allah
Anak dalam pandangan islam merupakan amanah dan nikmat yang dibeerikan allah swt kepada sebuah keluarga. Oleh karena itu permasalahan anak tidak hanya dipermasalahkan didunia saja tapi juga di akhirat. Menurut penjelasan dalam al-quran anak di bagi menjadi empat tipologi, sebagai berikut:
a.       Anak Sebagai Perhiasan Hidup Dunia
Anak sebagai hiasan hidup dunia (zinnatu a-hayah ad-dunya ) dinyatakan dalam Q.S Al-Kahfi: 46
Yang artinya:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S Al-Kahfi[18]: 46)
Mencermati ayat allah swt, dapat dikatakan benar adanya sebuah mahligai rumah tangga akan terasa belum lengkap tanpa kehadiran anak, walaupun harta benda perhiasan berlimpah ruah. Anak adalah perhiasan yang begitu mahal hartanya, bahkan lebih mahal dari harta termahal didunia.
b.      Anak Sebagai Ujian
Selain dipandang sebagai perhiasan, juga dapat dipandang sebagai ujian (fitnah) bagi kedua orangtuanya. Allah berfirman dan Q.S Al-Anfal[8]:28 yang artinya:
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi allah lah pahala yang besar”
Ayat tersebut berkaitan erat dengan tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak menjadi shalih dan shalihah. Apabila orangtua tidak berhasil menjadikan anaknya menjadi shalih dan shalihah dan seluruh tanggung jawabnya, maka orangtua harus menanggung jika suatu saat anak tersebut dapat mencoreng nama baiknya. Biasanya orang lain memandang baik buruknya anak langsung dikaitkan dengan perangai orang tuanya.
c.       Anank Sebagai Musuh
Kehadiran seorang anak tak selamanya menjadi harta dan perhiasan, namun fakta dunia menyatakan bahwa anak dapat menjadi musuh bagi orang tuanya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-quran yang artinya:
      “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan dan tidka memarahi serta (mengampuni) mereka sesungguhnya allah maha pengasih lagi maha penyayang”. (Q.S At-Taghabun [64]: 14)
Kata musuh dalam ayat tersebut dapat dimakanai secara fisik juga secara ide, pikiran, cita-cita, dan aktivitas. Contohnya, orangtua yang selalu berusaha untuk berlaku amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi anaknya justru melakukan hal yang sebaliknya.  
d.      Anak Sebagai Cahaya Mata (qurata a’yun)
tipe anak ideal yang didambakan oleh setiap orangtua adalah anak yang qurata a’yun (cahaya mata). Seperti firman allah dalam qur’an surat Al-Furqan yang artinya:
            “Dan orang-orang yang berkata, Ya tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai cahaya mata (penyenang hati kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S Al-Furqan [25]: 74)
Betapa orangtua sangat bahagia apabila dikaruniai anak-anak yang mempunyai sifat qurata a’yun yang artinya cahaya mata, permata hati, sangat menyenangkan. Sungguh itu adalah tipe anak ideal dalam pandangan islam. Anak yang memiliki kriteria selalu tunduk kepada orang tuanya, menyenangkan hati orang tuanya. Bagaimana agar anak dapat qurata a’yun,  harus dengan merawat, menjaga dan memelihara dengan baik sesuai islam. Sifat baik anak bukan bawaan, melainkan bagaimana orang tua mendidiknya. Karena pada dasarnya manusia lahir membawa fitrah yang lurus, dan yang yang menjadikannya belok kanan atau kiri adalah orangtuanya sendiri.
            Mendidik anak seyogyanya adalah sejak usia dini, bahkan saat masih dalam kandungan orangtua dapat mendidik anaknya dengan baik, dengan cara bagaimana prilaku ibunya selama mengandung. Bahkan membentuk kepribadian anak yang islami dapat dimulai sejak ibunya masih remaha, jauh sebelum mengandung anaknya, ibu telah mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik bagi anaknya.
Hubungan anak dan orangtuanya terbagi menjadi tiga:
1)      Hubungan Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Anaknya
Anak adalah amanah yang dititipkan allah swt kepada orang tua untuk dibesarkan,dipelihara, dirawat dan dididik sebaik-baiknya. Dalam sebuah keluarga fungsi orangtua adalah pemimpin bagi anak-anaknya.
2)      Hubungan Kasih Sayang
Setiap yang telah hidup keluarga pasti mengharapkan kehadiran anak-anakdalam rumah tangganya. Sebab itu anak tempat orangtua mencurahkan kasih sayangnya. Disebabkan anaka adalah perhiasan dunia.
3)      Hubungan Masa Depan
Dari sudut pandang teologi, anak merupakan aset investasi masa depan di akhirat. Anak yang shalih atau shalihah akan mengalirkan atau mengantarkan orangtuanya pada surga. Begitu juga sebaliknya.
           

Cara mendidik agar berdampak positif terhadap anak dengan sifat-sifat atau karakter anak yang cerdas, tangguh dan qurata a’yun minimal harus mencakup tiga karakter.
a)      Karakter keagamaan
Karakter keagamaan didapat dengan menumbuhkan pemahaman nilai-nilai kebenaran (Tauhid), pembiasaan beribadah (Shalat, do’a, zikir,dll) dan menumbuhkan akhlakul karimah. Mendidik anak-anak dengan target seperti itu diharapkan dapat menciptakan anak yang tertip dan disiplin dalam ibadahnya. Dan juga dapat berbuat baik serta bermanffat bagi dirinya dan orang lain.
b)      Karakter Pembelajara
Dapat dicapai dengan mengembangkan dua aspek penting, yaitu aspek kemampuan berpikir dan aspek ketrampilan dasar pembelajaran. Aspek kemampuan berpikir meliputi rasa ingin tahu yang tinggi, senang melakukan observasi dan eksplorasi dapat mengorientasikan potensi dirinya untuk mencapai apa yang iinginkannya. Aspek ketrampilan pembelajaran meliputi senang membaca, menulis, berkomunikasi, dankreatif.
c)      Karakter Trampil dan Mandiri
Dicapai dengan menumbuhkan kemampuan ketrampilan fisik berupa kegiatan fisik seperti olahraga, ketrampilan pribadi berupa keperluan yang menyangkut dirinya, mulai dari kerapian, kebersihan dan sebagainya.
Tip-tip membangun jiwa anak melalui kebersamaan dengan anak:
a.       Saat Melaksanakan Makan Bersama Keluarga
Kebersamaan keluarga dimeja makan adalah hal yang tidak dapat dibilang sepele, karena disitu anak akan mencontoh kepribadianorangtuanya dengan melihat adab-adab makan yang dicontohkan orangtua kepada anak-anaknya.

b.      Saat Mengadakan Rekreasi Keluarga
c.       Saat Kondisi Jiwa dekat dengan Allah

2.      Peran Orangtua Dalam Mendidik Anak
Keberhasilan mendidik anak tidak dapat lepas dari kedua orangtuanya, hal ini dapat dilihat dari kedudukan seorang ibu dalam sebuah keluarga. Ibu yang berstatus sebagai istri mendampingi ayah sebagai suami, mempunyai tugas utama mengurus rumah tangga dan mengasuh anak-anaknya. Tugas ibu banyak yang mengatakan ringan. Padahal tugas ibu sangat mulia.Sementara itu, suami sebagai kepala rumahtangga mempunyai tugas pokok untuk mencari nafkah serta memimpin keluarga.
Lima hal yang dapat dijadikan parameter pentingnya peran seorang ibu dalam pendidikan sehari-hari bagi anak-anaknya:
a.       Ibu sebagai Perawat dan Pelindung
b.      Ibu Sebagai Pengarah
c.       Ibu Sebagai Sumber Informasi
d.      Ibu Sebagai Pendorong dan Penghibur
e.       Ibu Sebagai Sumber peniruan
Secara umum, seorang ibu yang ideal dimata anak-anaknya harus memiliki prilaku, sikap, dan tutur kata yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Juga seorang ibu harus memiliki budi pekerti luhur dan ketakwaan kepada allah agar dicontoh oleh anak-anaknya.





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam membentuk kepribadian anak dalam sebuah keluarga sangat ditekankan pendidikan keluarganya. Sebabab terbentuknya kepribadian anak dimulai dari keluarganya yaitu kedua orang tuanya, lebih-lebih sosok ibu. Bukan masyarakat lingkungan tempat tinggalnya. Jadi apabila baik seorang ibu dan ayahnya, maka tak jauh juga perangai anak-anaknya. Karena anak itumelihat mencontoh perilaku kedua orangtuanya. Seperti pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya.











Daftar Pustaka


Al-Qur’anul Kariim
Prawira atmaja, Psikologi kepribadian dengan perspektif baru, Arus Media, jogjakarta, 2016















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Moralitas Bantuan

POLA KERJA BK SEKOLAH