Psikologi Abnormal




PSIKOLOGI ABNORMAL
A.    Pengertian
Abnormal berarti tidak normal, menyimpang dari suatu standar yang bisa berarti di atas normal atau di bawah normal.Perilaku abnormal (abnormal behavior) di gunakan untuk menggambarkan tampilan kepribadian dalam (inner personality) atau perilaku luar (outer behavior) atau keduanya. Yang di maksud dengan istilah ini adalah perilaku spesifik seperti fobia atau pola gangguan seperti skizofrenia. Demikian juga dengan masalah kronik atau yang berlangsung lama, seperti intoksikasi obat-obatan dengan simtom yang akut atau temporer.
Abnormal dalam pandangan akademis
a.       Menyimpang dari standar kultural atau sosial
Ullman dan Krasner, seperti di kemukakan Coleman dkk., 1994, bertitik tolak dari pengertian abnormal sebagai cap yang di terapkan pada perilaku yang menyimpang dari harapan-harapan sosial. Tidak ada tingkah abnormalselama masyarakat menerimanya. Dapat di artikan bahwa tidak ada masyarakat yang sakit, karena ukuran sehat ada pada masyarakat.
b.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri
Pandangan ini menyatakan bahawa perilaku abnormal adalah perilaku yang maladaptif ketika individu berada dalam kondisi atau situasi yang menuntutnya melakukan tindakan menyesuaikan diri dengan baik.
c.       Menyimpang secara staatistik, violasi atas norma sosial
Norma-norma numerik, yang di dasarkan pada prosedur statistic,dapat di jadikan landasan bagi pengelompokan perilaku: ada yang paling sering terjadi, rata-rata terjadi, dan sekali-sekali terjadi. Maka yang rata-rata itu menunjukkan orang-orang yang tergolong normal, sedangkan yang sangat seering, atau sangat jarang termasuk ekstrem, abnormal.
Yang paling mudah di pahami dalam kriteria ini adalah menyangkut fungsi mental yang di sebut kecerdasan yang termasuk dalam wilayah kognitif. Taraf kecerdasan antara 90 dan 110 adalah kecerdasan orang pada umumnya, Normal. Kurang dari 90 termasuk rendah, abnormal atau subnormal. Dan yang di atas 110 tergolong memiliki kecerdasan tinggi, abnormal, tapi bukan subnormal melainkan di atas normal atau aboveaverage bahkan selanjutnya superior.
Pengertian abnormal di mata masyarakat awam
Beberapa pengertian yang salah dan seringkali di temukan di masyarakat adalah:
1.      Keyakinan bahwa perilaku abnormal selalu kacau.
2.      Gagasan bahwa antara Abnormaldan Normal berbeda tajam.
3.      Pandangan bahwa gangguan mental merupakan stigma turunan.
4.      Pandangan bahwa genius adalah “saudara kegilaan”.
5.      Pandangan bahwa pasien mental berbahaya dan tak dapat di sembuhkan.
6.      Keyakinan bahwa penderita gangguan mental tidak terhormat.
7.      Ketakutan yang berlebihan untuk menderita gangguan jiwa.[1]

B.     Faktor-faktor psikologi abnormal
Coleman (1984) menyatakan bahwa penyebab tingkah laku abnormal dan gangguan jiwa tidaklah tunggal, tapi terkait dengan kompleksnya perkembangan kepribadian. Perilaku dan gangguan atau penyakit jiwa umum-nya memiliki banyak penyebab (multicausal) daan berkaitan dengan apa yang ada sebelum gangguan itu muncul, yaitu factor-faktor bawaan, predisposisi, kepekaan (sensitivity) dan kerapuhan (vulnerability), predisposisi, kepekaan dan kerapuhan merupakan hasil interaksi antara factor-faktor bawaan dengan pengaruh-pengaruh luar yang terjadi pada seseorang.
Factor-faktor bawaan ada yang bersifat biologis atau herediter (misalnya kelainan genetic yang di bawa sejak lahir). Factor bawaan dapat juga merupakan akibat dari keadaan deprivasi.(kekurangan), misalnya deprivasi zat yodium pada anak yang menimbulkan gangguan inteligensi. Coleman (1984) membahas beberapa perspektif penyebab tingkah laku abnormal dengan membedakan antara penyebab primer, penyebab predisposisi, penyebab yang mencetuskan dan penyebab yang menguatkan (reinforcing).
Penyebab primer adalah kondisi yang harus di penuhi agar suatu gangguan dapat muncul, meskipun dalam kenyataan gangguan tersebut tidak atau belumm muncul. Contoh dalam bidang psikologi adalah kecemasan yang terjadi ketika seorang anak masih kecil. Ini merupakan penyebab primer yang harus ada untuk terjadinya suatu gangguan jiwa atau penyimpangan perilaku, meskipun perilaku menyimpang itu belum tentu dalam kenyataanya akan benar-benar terjadi.
Penyebab predisposisi adalah keadaan sebelum munculnya suatu gangguan yang merintis kemungkinan terjadinya suatu gangguan di masa yang akan datang. Missal sifat tertutup dapat merupakan predisposisi gangguan perilaku menghindar di kemudian hari. Penyebab yang mencetuskan ialah suatu peristiwa yang sebenarnya tidak begitu parah namun seolah-olah merupakan sebab timbulnya prilaku abnormal itu, padahal sebenarnya telah ada predisposisi sebelumnya. Penyebab yang meenguatkan adalah peristiwa yang terjadi pada seseorang yang memantapkan suatu keadaan atau kecenderungan tertentu, yang telah ada sebelumnya.
Hal penting lain dalam pemahaman tingkah laku abnormal adalah bahwa di antara berbagai penyebab tersebut tidak ada hubungan linear antara sebab dan akibat. Bila istilah’ presiposisi di gunakan dalam arti yang umum sebagai ‘bakat’ untuk terjadinya tingkah laku abnormal di masa yang akan datang, maka istilah diathesis adalah predisposisi untuk berkembangnya suatu gangguan tertentu di masa yang akan datang. Diathesis dapat merupakan predisposisi dalam aspek biologis, psikososial,dan sosiokultural. Kebanyakan tingkah laku abnormal adalah hasil dari tekanan yang bekerja pada seseorang yang memiliki satu diathesis untuk jenis gangguan yang akan muncul kemudian. Frustasi, stress dan penyesuaian diri,pengalaman masa dini dan asuhan keibuan (mothering), juga merupakan factor dari perilaku abnormal.[2]
C.    Rehabilitasi dan Resosialisasi Psikologi Abnormal
1.      Psikoterapi
Psikoterapi (psychoterapy) adalah suatu interaksi sistematis antara klien dengan terapis yang menyertakan prinsip-prinsip psikologi untuk melakukan perubahan pada perilaku, pikiran dan perasaan klien, dengan tujuan untuk membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecaahkan masalah dalam kehidupan, atau berkembang sebagai individu. Ciri-ciri psikoterapi:
1.      Interaksi yang sistematis
Terapis mengarahkan interaksi ini dengan rencana dan tujuan yang merefleksikan sudut pandang teoretis mereka.
2.      Prinsip psikologis
3.      Perilaku, pemikiran, dan perasaan.
4.      Perilaku abnormal, pemecahan masalah, pertumbuhan pribadi.
Setidaknya ada tiga kelompok orang yang di bantu oleh psikoterapi. Pertama adalah orang-orang dengan gangguan mood, gangguan kecemasan, atau skizofrenia. Kedua adalah orang-orang yang mencari bantuan untuk masalah pribadi yang tidak di anggap sebagai abnormal, seperti rasa malu sosial atau kebingungan dalam memilih karier. Ketiga adalah orang-orang yang mencari pertumbuhan pribadi.
Terapi Psikodinamika
Sigmund Freud merupakan perumus teori pertama yang mengembangkan model psikologis model psikodinamika dari perilaku abnormal.
Freud merangkum tujuan dari psikoanalisis dengan mengatakan, “Dimana ada Id, seharusnya di situ ego berada.” Ini berarti sebagian, bahwa psikoanalisis dapat membantu memberikan kesadaran, dipresentasikan oleh ego yang sadar, pada kerja dari Id. Akan tetapi Freud tidak mengharapkan, atau mengarahkan, bahwa klien harus menyadari semua materi yang di represi seluruh impuls, harapan, ketakutan, dan ingatan.tujuannya lebiih pada menggantikan perilaku defensive dengan perilaku lang lebih adaptif.
Dengan demikian klien dapat menemukan kepuasan tanpa memperoleh hukuman sosial atau menghukum diri sendiri. Melalui proses ini seorang pria dengan fobia terhadap pisau dapat menjadi sadar bahwa dia telah menekan impuls-impuls untuk menyalurkan kemarahan atas pembunuhan terhadap ayahnya. Fobia menghindarkannya untuk memiliki kontak dengan pisau, sehingga memberikan fungsi tersembunyi, yaitu menekan impuls untuk  membunuh.
Metode utama yang di gunakan Freud untuk mencapai tujuan ini adalah asosiasi bebas, analisis mimpi, dan analisis hubungan transference.
Asosiasi bebas (free association) merupakan proses pengungkapan tanpa sensor dari pikiran-pikiran segera setelah pikiran masuk ke benak kita. Asosiasi bebas di percaya secara bertahap akan menghancurkan pertahanan yang menghambat kesadaran tentang proses bawah sadar. Klien di minta untuk tidak menyensor atau menyaring pikiran, tetapi membiarkan pikiran mereka mengembara secara bebas dari satu pikiran ke pikiran yang lainnya.
Analisis mimpi Bagi Freud, mimpi-mimpi merupakan “jalan utama menuju ketidaksadaran.” Selama tidur, pertahanan ego melemah dan impuls yang tidak dapat di terima menemukan ekspresinya dalam mimpi. Karena pertahanan tidak seluruhnya di hapuskan, impuls mengmbil bentuk yang di samarkan atau yang di simbolisasikan.
Analisis Hubungan (Transference) proses analisis dan penanganan ini di anggap komponen penting dalam psikoanalisis. Freud percaya bahwa hubungan transference memberikan alat untuk menghidupkan kembali konflik-konflik dengan orang tua pada masa keciil. Klien dapat bereaksi kepada analisis dengan perasaan marah, cinta, atau cemburu yang sama dengan mereka rasakan terhadap orang tua mereka. Freud menyebutkan proses menghidupkan kembali konflik kanak-kanak ini sebagai neurosis transference. Neurosis ini harus dianalisis dan di tangani dengan berhasil agar klien dapat berhasil dalam psikoanalisis.
2.      Terapi Perilaku
Terapi perilaku (behavior therapy) merupakan aplikasi sistematis dari prinsip-prinsip belajar untuk menanganigangguan psikologis. Karena fokusnya pada peubahan perilaku bukan perubahan keepribadian dan menggali masa lalu secara mendalam, terapi perilaku relative singkat, berlangsung umumnya dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Terapi perilaku mencoba mengembangkan hubungan terapeutik yang hangat dengat klien, tetapi mereka percaya bahwa kemampuan khusus ddari terapi perilaku berasal dari teknik-teknik yang berbasis pembelajaran bukan dari sifat hubungan terapeeutik.
Di antara metodenya adalah desensitiasi sistematis, pemaparan bertahap, dan modeling.
Desensitiasi sistematis (systematic desensitization) melibatkan suatu program terapeutik yang memperlihatkan (dalam imajinasi atau dengan menggunakan gambar atau slide) stimuli yang secara bertahap semakin menakutkan sementara individu tetap merasa sangat santai.
Pemapaaran bertahap (gradual exposure) (juga disebut pemaparan in vivo, artinya “hidup”), orang yang memiliki masalah fobia secara sengaja di paparkan pada stimuli yang menimbulkan ketakutan.individu maju melalui hierarki dari stimuli yang secara bertahap makin menimbulkan kecemasan, sesuai dengan kemampuannya.
Modeling, individu mempelajari perilaku yang di harapkan dengan mengamati orang lain melakukannya (Braswell &kendall).
            Terapis perilaku juga menggunakan teknik-teknik yang di dasarkan pada operant conditioning atau penggunaan hadiah atau reward dan hukuman secara sistematis, untuk membentuk perilaku yang di harapkan.
3.      Terapi Humanistik
Terapi humanistik berfokus pada pengalaman klien yang subjektif dan di sadari. Terapi ini lebih berfokus pada apa yang di alami klien saat ini, disini dan sekarang, dari pada masa lalu. Ada persamaan antar terapis psikodinamika dan humanistic. Keduanya mangasumsikan bahwa masa lalu mempengaruhi perilaku dan perasaan pada masa kini dan keduanya mencoba untuk memperluas self-insight klien. Bentuk utama dari terapi humanistic adalah terapi terpusat pada individu (personal-centered therapy) (di sebut juga terapi terpusat pada klien (klien-centered therapy)) yang di kembangkan oleh psikolog Carl Rogers.
Terapi terpusat individu menciptakan kondisi hangat dan penerimaan dalam hubungan terapeutik yang membantu klien lebih sadar dan menerima diri mereka sendiri.
4.      Terapi Kognitif
Terapi kognitif berfokus untuk membantu klien mengidentifikasi dan memperbaiki keyakinan-keyakinan maladaptive, jenis berpikir otomatis dan sikap self-defeating yang menghasilkan atau menambah masalah emosiional. Mereka percaya bahwa emosi-emosi negative seperti kecemassan dan depresi di sebabkan oleh intepretasi kita terhadap peristiwa yang mengganggu, bukan pada peristiwa itu sendiri. Terdapat dua teori terapi kognitif yaitu terapi rational emotif dari Albert ellis, dan terapi kognitif dari Aron Beck.
Terapi Perilaku Rasional-Emotif Albert Ellis (1977b, 1993, 2001; Dryden & Ellis, 2001) percaya bahwa adopsi dari keyakinan irasiional dan self-defeatingakan meningkatkan masalah psikologis dan perasaan negative.
Terapi Kognitif Beck seperti yang telah di rumuskan oleh psikiater Aaron Beck dan koleganya (Beck,1976; Beck dkk, 1979;DeRubeis, Tang & Beck, 2001) terapi kognitif, seperti REBT, berfokus pada kognitif maladaptive. Mendorong klien untuk mengenali dan mengubah masalah dalam berpikir, ddi sebut sebagai disstorsi kognitif, yang mempengaruhi mood, dan menyebabkan hendaya perilaku, seperti kecenderungan membesar-besarkan kejadian negative dan mengecilkan pencapaian pribadi. Teraapi kognitif meminta klien untuk merekan pikiran-pikiran yang muncul akibat kejadian mengecewakan yang mereka alami dan memperhatikan hubungan anatar pikiran dengan respon emosional mereka. Hal itu kemudian akan membantu mereka membantah pikiran yang terdistorsi dan menggantikannya dengan alternative yang rasional.[3]

















DAFTAR PUSTAKA


Wiramihardja A. Stutardjo, Pengantar Psikologi Klinis.Bandung: Rafika Aditama, 2012.
Markam Suprapti, Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: UI-Press, 2005.
Nevid Jeffrey, dkk, Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga, 2003


[1]Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Klinis (Refika Aditama, Bandung 2012),hlm. 61-70.
                   [2]Suprapti Sumarmo Markam, Pengantar Psikologi Klinis(UI-Press, Jakarta 2005).hlm. 32-41.

[3]Jeffrey S. Nevid, dkk, Psikologi Abnormal (Erlangga, Jakarta 2003).hlm. 101-112

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Moralitas Bantuan

POLA KERJA BK SEKOLAH